True Story : Kerja Di Korea tak seindah di Drama Korea

    288
    0

    Untuk kalian yang tergila-gila kpop dan ingin tinggal di sana hanya karena k-pop, mohon baca tulisan ini dulu.

    Beberapa waktu lalu saya bertemu teman saya yang sedang main ke Indonesia. Dia sudah tinggal di Korea Selatan beberapa tahun ini. Jadi rasanya bahagia banget ketika finally bisa kumpul-kumpul dan ngerumpi. Sesi kumpul-kumpul itu pada akhirnya menjadi ajang curahan hati dia kepada kita, teman-temannya di Indonesia.

    Salah satu hal yang ia ceritakan adalah tentang dirinya bekerja di Korea Selatan. Katanya tahun depan finally dia akan resign dan kembali ke Indonesia for good. Dia bilang, Korea Selatan isn’t for her.

    Awalnya dia ke Korea Selatan karena suka budayanya. Pasti kalian paham, anak-anak SMA yang sedang gila k-pop dan bermimpi ingin kuliah di Korea Selatan. Teman saya salah satunya.

    Teman saya bekerja di salah satu klinik kecantikan di Korea Selatan. Tugasnya mencari customer dari Indonesia yang ingin melakukan prosedur kecantikan di kliniknya. Misalnya operasi mata, hidung, botox, dan banyak lainnya.

    Kata teman saya pressure di Korea Selatan terlalu tinggi. Semua orang dituntut untuk menjadi sempurna. Awal dia bekerja di klinik itu bosnya memang masih selow dan tidak terlalu menuntut banyak. Tapi lama-lama bosnya menuntut terlalu banyak dan dia dikejar target yang tidak masuk akal.

    Teman saya menunjukkan wajahnya yang bruntusan. Katanya itu gara-gara dia sering sekali pulang kerja dengan keadaan sangat kelelahan dan akhirnya tidur tanpa menghapus makeup. Sudah seminggu itu dia juga tidak menghapus makeup.

    Dia juga bilang kalau biasa banget bagi orang Korea untuk mengomentari fisiknya. Itu biasa juga sih di Indonesia, kayak bilang “Lo gendutan ya.” Tapi di Korea Selatan lebih dari itu. Misalnya gini, “Mata kamu ga ada double eyelid, kamu gak mau sekalian operasi eyelid di sini?” Dan itu dikatakan oleh kolega kantornya.

    Standar untuk terlihat sempurna di sana sangat tinggi. Orang-orang dituntut untuk selalu terlihat cantik 24/7.

    Terus di sana itu sering ada budaya minum-minum abis kerja. Jadinya mau ga mau dia harus ikut karena begitulah kebudayaannya. Itu yang akhirnya bikin dia ujung-ujungnya baru sampe rumah jam 10–11 malam. Padahal dia sudah sangat kecapekan. DIa juga dipaksa minum dan harus mau minum, apalagi kalau yang minta bosnya.

    Gajinya juga biasa saja. Kalau dirupiahkan besar memang, belasan juta. Tapi di sana belasan juta itu hanya UMR. Ujung-ujungnya hampir 1/3 gaji dia untuk membayar apartemen atau di sana sebutnya one room. Semacam apartemen studio tapi bangunannya tidak setinggi apartemen pada umumnya.

    Dia juga tidak punya banyak teman Korea. Temannya haya orang-orang Indonesia, kecuali kolega dan itupun tidak dekat. Dia bilang sikap ‘rasisme’ masih cukup tinggi. Dia tidak terlalu merasakannya karena wajahnya oriental keturunan Chinese jadi putih dan mirip-mirip orang lokal. Tapi temannya yang berkulit agak gelap apalagi yang memakai hijab, masih sering menerima rasisme.

    Tindakan rasismenya itu sesimpel gak mau temanan dekat atau tidak diajak ketika makan bareng di kantor. Padahal temannya teman saya itu anak baru. Harusnya wajar diajak makan bareng atau gimana. Teman saya tidak merasakan itu untungnya, tapi teman baiknya di Korea Selatan yang merasakan itu.

    Teman saya sudah tidak sabar menunggu Mei 2020 waktu ketika visanya habis. Dia akan menjadikan alasan itu untuk kembali ke Indonesia. Katanya semoga bosnya mengizinkan dan tidak menahan dia lagi untuk bekerja di situ.

    Terakhir, saya harus menggunakan anonim karena saya tidak izin ke dia untuk menuliskan ini. Lagian kalau izin kemungkinan besar saya akan dilarang. Makanya tolong hargai keputusan saya menggunakan anonim.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.