Kisah Ki Barsishoh Sang Pemilik Ilmu dan Kemasyhuran

    1066
    0

    Alkisah Barshishoh memiliki derajat keilmuan yang sangat tinggi. Dia menjadi rujukan keilmuan pada masanya sehingga kemasyhuran dia dapat melalui ilmunya. Konon, semua muridnya pun memiliki karomah kemuliaan, pena-pena bisa bergerak sendiri menuliskan paparan Barshishoh dalam setiap majelis ilmu, seluruh muridnya dapat terbang mengendarai angin, bepergian kesana-kemari sesuai ingin, salat pun bisa tak kenal tempat. Hamparan samudera bisa menjadi sajadah luas bagi mereka untuk bersujud kepada Allah.

    Raja pada saat itu memiliki puteri cantik namun sedang didera penyakit, ratusan tabib didatangkan untuk mengusahakan kesembuhan sang puteri tetapi kesembuhan itu masih setia untuk dinanti, belum kunjung tiba membawa ketentraman dalam hati.

    Senopati Sang Raja memberitahu, bahwa disana ada ahli ilmu yang serba tahu, Barshishoh ternyata terkenal sampai ke pojok-pojok Istana Sang Raja.

    Sontak saat itu juga puteri cantik dibawa oleh Sang Raja ke Pesantren Barshishoh. Diinapkanlah ia disana seraya Barshishoh menunggu Ilham Sang Kuasa tentang gerangan apa ini penyakit hingga betah bersemayam dalam tubuh sang puteri.

    Ditengah tafakur, Ki Barshishoh kedatangan tamu, seorang kakek tua yang terlihat alim dan penuh takzim. Lelaku kakek itu membuat Barshishoh tercengang bukan kepalang. Sang Kakek tekun berwirid, tanpa makan dan minum, Hari dimakan Minggu, Minggu berganti Bulan. Sang kakek tiada bergeming sedikit pun bahkan sekedar untuk meminta minum.

    Lamat-Lamat Barshishoh termakan rasa penasarannya sendiri. Ia lantas menyapa sang kakek dan bertanya mengapakah sang kakek begitu kuat beribadah tanpa istirahat. Sang Kakek menjawab “Aku begini karena awalnya pernah melalukan dosa besar”. Jelas Sang Kakek kepada Barshishoh.

    Nafsu beribadah Barshishoh ternyata sungguh besar hingga ia ingin meniru Sang Kakek, Ia memberi saran kepada Barshishoh agar melakukan dosa kemudian buru-buru bertaubat. Kata Sang Kakek “Cobalah Kau tiduri puteri cantik itu kemudian cepat bertaubat, niscaya ibadahmu tambah nikmat”. Sontak Barshishoh menolak.

    Tak kenal menyerah, Sang Kakek memberi saran lagi kepada Barshishoh “Bunuh itu penjaga Sang Puteri, aku pun pernah membunuh kemudian lekas bertaubat, nanti ibadahmu tambah nikmat”. Dengan keras, Barshishoh masih menolak.

    Tawaran ketiga Sang Kakek memberi saran. “Minumlah arak ini sampai mabuk, ini dosa yang tidak melibatkan siapapun, hanya antara dirimu dengan Allah, nanti lekas bertaubat maka ibadahmu tambah nikmat”. Barshishoh tertegun. Dia minum arak itu dalam keadaan melamun. Sempoyongan ia mabuk,

    Saat berjalan menuju kamarnya, Barshishoh melihat siluet sang puteri ditengah cahaya lampu tempel, sedang ganti baju. Dalam keadaan mabuk berat, ia meniduri sang puteri sampai pagi. Terkejut karena ketahuan si pengawal, Barshishoh mencabut pedang di pinggang pengawal itu dan menebaskannya dengan mantap tepat pada leher sang empunya pedang. Tidak ingin citranya sebagai orang berilmu tercemar, dia pun membunuh sang puteri. Jasad keduanya dia kubur di sekitar pesantrennya.

    Sang Raja mulai resah, tak kunjung mendapat kabar tentang puterinya yang diobati oleh Barshishoh. Sebaris pasukan ia siapkan untuk menemaninya sowan ke tempat Barshishoh. Saat ditanya keberadaan sang puteri, Barshishoh gelagapan. Kesabaran Sang Raja sudah habis, ia perintahkan seluruh pasukan menggeledah isi pesantren dan sekitarnya.

    Pasukan Sang Raja mendapati dua gundukan aneh di sekitar pesantren, saat mereka menggali kedua gundukan itu didapatinya jenazah sang puteri dan pengawal telah membusuk. Dengan muka geram Sang Raja memerintahkan Barshishoh untuk dihukum mati dengan cara disalib.

    Ditengah kepayahan menahan rasa sakit cambukan dan pukulan pasukan sang raja, Barshishoh merintih dan menanti Kehadiran Sang Kakek. Kakek itu hadir menyaksikan penyaliban Barshishoh, dia mendekat dan membisiki kepada Barshishoh, “Jika ingin selamat, sujudlah padaku walau sekejap saja”.

    Barshishoh mengaku ingin selamat, tetapi tiada mampu bersujud karena tangan dan kakinya terikat kayu salib. Sang Kakek menawarinya sujud dengan bahasa isyarat. Kemudian Barshishoh bersujud kepada Sang Kakek dengan isyarat kedipan mata. Sang Kakek kemudian lenyap. Barshishoh akhirnya tewas diatas kayu salib dalam keadaan menyembah kepada selain Allah

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.