Hidup di Korea Merampas Kebahagiaanmu!

    201
    0

    Begitulah kata teman saya yang sudah tinggal di Korea Selatan selama kurang lebih 5 tahun. Panggil saja dia Sasa.

    Sasa sudah tinggal di sana semenjak kuliah semester 1 karena dia mengenyam pendidikan di Busan, Korea Selatan. Dia mengambil jurusan bisnis. Katanya itu jurusan sejuta umat di sana, sehingga persaingan setelah kuliah sangat ketat.

    Ketika masa kuliah menurut dia hidupnya masih fun. Stress sedikit sih ada, tapi masih manageable karena dia bergaul banyak dengan teman-teman Indonesianya. Taulah kalau orang-orang Indonesia kan lebih santuy dan tidak terlalu sikut-sikutan ketika kuliah. Malah mereka saling membantu supaya semua teman-temannya mendapatkan nilai bagus.

    Masalah dimulai ketika lulus kuliah. Dia mendapatkan pekerjaan di suatu perusahaan startup. Namanya juga perusahaan startup, maka beban kerjanya itu banyak. Dia merangkap beberapa posisi. Meskipun dia masih fresh graduate, ternyata Sasa langsung diberikan posisi head. Ia membawahi seseorang yang lebih tua darinya dan beberapa pekerja part-timer.

    Semenjak bekerja di perusahaan itu hidupnya mulai berantakan. Bisa tidur 4 jam dalam sehari sudah syukur, tanggal merah potong gaji, telat potong gaji, lembur tidak ada uang tambahan, tiba-tiba ditelpon malam harus standby, dan masih banyak lagi. Fisiknya semakin melemah dan dia sering sakit-sakitan. Tapi tidak ada yang perduli karena itulah resiko memilih untuk bekerja di sana.

    Ada 1 kejadian yang membuat dia sadar bahwa dia benci Korea Selatan. Suatu hari di kota Seoul, dia turun dari bis. Fisiknya yang melemah membuat dia oleh ketika turun bis. Dia terjatuh ke aspal dan tidak bisa bangun. Menggerakkan badannya saja rasanya sulit sekali.

    Tapi apa yg dilakukan orang-orang di sekitarnya? TIDAK MENGHIRAUKANNYA SAMA SEKALI. Sasa ingat ada seorang wanita yang sedang bermain HP di halte bis. Sasa menoleh ke arah wanita itu. Wanita itu sempat melihat Sasa bentar, tapi kembali lagi ke HP nya. Lalu orang-orang yang turun bis juga langsung pergi tidak menghiraukan Sasa. Orang tetap hidup bekerja seperti biasa tanpa perduli dengan kenyataan bahwa ada seorang wanita yang terjatuh dari bis sedang kesakitan tidak bisa bergerak.

    Sasa memaksakan dirinya untuk bangun. Tetap tidak bisa. Dia menyeret dirinya ke halter itu. Dia duduk di aspal halte sambil menangis. Itulah 1 titik yang membuat Sasa sadar, cepat atau lambat dia harus keluar dari Korea Selatan.

    “Korea Selatan adalah negara dengan penduduk yang dingin. Orang-orangnya seperti robot.” Itu kata-kata Sasa yang masih teringat jelas di benak saya.

    Tau kan ini cerita teman saya. Dia sempat depresi berat yg salah satu triggernya adalah gara-gara ini. Gimana rasanya kalo cerita dia tiba-tiba kesebar di internet dan dia tau saya yg sebarin? Saya harus menjaga privasi dia.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.