Bulan Ramadhan dan Nilai Mistik Dalam Sholat Tarawih

    605
    0

    Sebuah Hadist selalu dibaca dan dijelaskan dalam nyaris hampir seluruh pesantren yang mendadak muncul saat Ramadhan. Orang kebanyakan menyebutnya Pesantren Kilat, tetapi sebenarnya lebih mirip Pesantren Dadakan. Ia tiba-tiba ada untuk segera tiba-tiba menghilang kembali untuk kembali muncul dalam Ramadhan tahun depan. Tidak sebulan penuh ia ada dan ramai, paling banter hanya seminggu dua minggu karena orientasinya jelas bukan perubahan akhlak tetapi secarik sertifikat yang menjadi pra syarat untuk kembali masuk sekolah setelah libur panjang bulan Ramadhan. Eh kok jadi ngelantur membahas Pesantren Petir eh Kilat ini ya.

    Kembali pada hadist yang saya maksud. Mohon maaf jika ada salah-salah kutip, paling tidak ada Imam Abu Hanifah yang masih mau mentolerir salah kutip matan hadist asalkan secara makna ia tidak keluar jauh dari konteks yang sedang dibicarakan.

    Rasulullah SAW bersabda :

    من قام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر

    “Siapapun yang mendirikan bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan ikhlas maka diampuni baginya dosa masa lalu dan dosa yang akan datang”

    Sungguh Ramadhan sangat kontras dengan dendam politik yang seringkali masih eksis dalam kehidupan manusia. Ramadhan mampu menegasikan dosa masa lalu seorang mukmin asalkan dia mau berjibaku melawan dirinya sendiri, meninggalkan kesetiaannya pada musuh berupa nafsunya seraya berikrar janji setia untuk menghidupkan Ramadhan dalam kehidupannya sendiri. Artinya ikrar politik kepada Ramadhan itu harus juga eksis dalam karakter pribadi umat muslim sehingga saat Ramadhan berakhir karakter itu masih ada. Ini yang dimaksud dengan pengampunan “dosa yang akan datang” dalam matan Hadist diatas.

    Banyak ulama ahli tafsir hadist yang menafsirkan kalimat ( قام ) atau mendirikan dalam hadist tersebut adalah Salat Tarawih. Saking spesialnya status tarawih dalam benak Rasulullah dan para sahabatnya, mereka memberikan gelar kepada Salat Tarawih sebagai ( قيام رمضان ) atau tegaknya bulan Ramadhan. Dapat kita simpulkan bahwa tegaknya bulan Ramadhan adalah karena spirit Salat Tarawih yang eksis bukan hanya di Mesjid tetapi diluar mesjid, di rumah-rumah setiap muslim, di pos-pos ronda warga yang sedang siskamling, di saung-saung tempat para petani melepas lelah karena terik mentari dan jauh dalam relung jiwa setiap umat. Artinya, sejauh mana efektifitas pengamalan ritual dan nilai-nilai tarawih dalam keberislaman kita sebaik itulah pula tegaknya nilai bulan Ramadhan dalam kehidupan kita. Sungguh sangat jelas, sama sekali Ramadhan tidak berhubungan dengan dibuka atau ditutupnya rumah makan pada siang hari.

    Secara fiqih, terjadi perbedaan dalam hal tata cara pelaksanaan Salat Tarawih. Kaum Tradisionalis Nahdhatul Ulama mengerjakan Salat yang memiliki hukum sunnah muakkadah ini sebanyak 20 rakaat yang dilanjutkan dengan 3 rakaat salat witir dalam dua kali salam. Sementara mereka yang mengklaim dirinya sebagai Kaum Modernis Islam yakni Muhammadiyyah dan Persis atau mereka yang ingin Agenda Tarawihnya cepat berakhir mengerjakan Salat ini sebanyak 8 rakaat yang dilanjutkan dengan 3 rakaat salat witir. Mereka mengerjakan itu semua dengan cara dan dalil masing-masing yang sebenarnya njelimet bagi saya selaku orang kampung.

    Terlepas dari itu semua, untuk mencapai kriteria Salat Tarawih semuanya memiliki kesamaan yakni terdapat repetisi atau pengulangan Salat yaitu masing-masing sebanyak dua rakaat diakhiri satu kali salam, begitu seterusnya sampai mencapai jumlah rakaat yang diinginkan baik itu 20 atau 8 rakaat.

    Dalam terminologi Tarekat Dzikir, repetisi atau pengulangan lapadz dizikir bukanlah perkara yang dilakukan tanpa maksud. Dalam kitab yang berjudul ( خزينة الأسرار) Kitab yang dianjurkan untuk dijadikan rujukan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya bagi siapapun yang akan memasuki medan dzikir dikatakan bahwa repetisi atau pengulangan itu sengaja dilakukan oleh Kaum Mistis Sufi untuk melahirkan efek ( اشد تأثيرا فى القلب) atau bekas yang luar biasa di dalam hati sang pelantun dzikir. Lelaku ini sejalan dengan arahan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang tersirat di dalam Hadist :

    من احب شيئا اكثر ذكره

    “Siapapun yang mencintai sesuatu pastilah ia banyak menyebut atau mengingatnya”

    Dalam Salat Tarawih, repetisi atau pengulangan itu bukan sekedar pada bacaan salatnya saja melainkan seluruh tata aturan salat termasuk gerakannya diulangi hingga mencapai jumlah rakaat yang diinginkan. Ini berarti secara teoritik, bukan hanya hati dan lisan saja yang mengingat Allah tetapi seluruh anggota badan yang bergerak berdasarkan irama dalam salat terlarut dalam nada ketukan salat yang diatur oleh Tumaninah sehingga melahirkan ketenangan hati dan jiwa.

    Dee Lestari seorang pengarang novel menyebut ada sesuatu yang dapat mengantarkan manusia yang berasal dari alam manusia itu sendiri untuk menuju dimensi di luar dirinya. Ia bernama “Enteogen”. Panjang lebar ia bercerita tentang hal ini dalam Novel keempat Seri Supernova berjudul “Partikel”. Salat termasuk Salat Tarawih lahir dari kebutuhan manusia untuk menemukan dimensi diluar dirinya. Manusia terjebak dalam bentuk tiga dimensi seraya dikurung oleh dimensi yang keempat yakni waktu. Untuk menjadi sempurna atau mencapai derajat insan kamil, Manusia harus mampu menembus alam lima dimensi. Saya menduga, berdasarkan paparan Dee Lestari dalam novelnya tersebut, dimensi kelima itu adalah sebuah maqom dalam mistisisme Islam bernama Fana’. Derajat diri manusia yang melebur tanpa sisa menjadi satu dengan segenap sesuatu yang berasal dari dalam dan luar dirinya sehingga yang ada hanyalah “Aku”.

    Peleburan ini juga diceritakan dalam Hadist diatas tentang Ramadhan diatas pada kalimat ( غفر ) yang memiliki arti semantik melebur atau dilebur dalam bentuk pasifnya. Ia menjadi tanpa sisa, hilang bahkan tanpa kerana. bahkan kalimat ( رمضان ) yang berasal dari kata ( رمض ) memiliki arti semantik sebagai panas yang melebur apapun yang dikenainya. Kalimat tersebut ditambah huruf alif dan nun sehingga melahirkan batas peleburan paling tinggi, dalam konteks kebahasaan bahasa arab. Secara kebudayaan, bangsa arab tinggal ditengah padang pasir yang terik disinari matahari, boleh kita bayangkan dalam benak bagaimana puncak panas itu sehingga mampu melebur apapun yang disinarinya sampai hilang tiada bekas.

    Di satu sisi, secara bahasa hadist tentang Ramadhan diatas memiliki keserasian yang indah secara tata bahasa. Juga disisi lain turunan daripada tata bahasa tersebut melahirkan lelaku ritual syari’at yang mengantarkan sang pelaku menuju arti yang dimaksud dalam keserasian teks dan substansi yang terkandung dalam hadist populer itu.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.