58 Pelajaran Hidup yang Paling Berharga

    130
    0
    1. Kartu kredit, Paylater, dan pinjaman online adalah ilusi. Kamu mengira punya uang padahal tidak.
    2. Instagram menguras dompetmu dalam 2 hal: pertama, hi-res videonya yang autoplay menyedot kuota kamu; kedua, iklan-iklannya yang massive menggoda imanmu (bandingkan dengan twitter yang lebih minim iklan).
    3. Gula sama parahnya dengan narkoba, hanya saja industri makanan masih punya cara untuk mengelabui kamu. [1][2]
    4. Kalau ragu-ragu, lebih baik mundur. Keragu-raguan adalah sinyal bahwa ada hal yang tidak beres, tapi kamu tidak tahu apa itu.
    5. Meledek diri sendiri adalah defense mechanism yang ampuh. Orang lain akan segan meledekmu jika kamu sudah lebih dulu melakukannya.
    6. Kenapa belanja online itu candu? Karena sangat menyenangkan ketika membuka kotaknya (unboxing). Bahkan sekalipun kamu tahu apa isinya.
    7. Memberitahu orang lain bahwa kamu akan melakukan sesuatu, malah membuat kamu malas melakukannya. Lebih baik laksanakan misimu dalam diam, lalu umumkan hasilnya.
    8. Sesuatu yang didekorasi atau dihias berlebihan, biasanya isinya tidak menarik. Ini berlaku juga untuk manusia.
    9. Kalau sampai harus nyari-nyari pembenaran, berarti hal itu memang ngga benar.
    10. Berhati-hatilah menyatakan kebencian pada seseorang. Biasanya sifat orang itu justru ada di diri kita.
    11. Kata-kata orang lain yang dilontarkan tanpa berpikir, tidak sepatutnya kamu masukkan ke pikiranmu.
    12. Ngga semua urusan orang mesti kamu tahu, dan ngga semua yang kamu tahu mesti kamu urusin.
    13. Sedih kita tidak permanen, demikian juga bahagia kita.
    14. Ada perbedaan jelas antara “membutuhkan” dan “ketergantungan”.
    15. Belajar dari kesalahan orang itu memang bagus, tapi tidak sebagus belajar dari kesalahan sendiri. Kalau sudah pernah sakit, kamu akan berpikir bagaimana agar tidak sakit lagi.
    16. Jangan takut kehilangan apa yang terlanjur kamu miliki dan sukai, karena sebelum kamu memilikinya bukankah kamu tetap bisa hidup?
    17. Sejarah selalu berulang.
    18. Semua keputusan mengandung risiko dan reward—keduanya selalu berdampingan. Pilihlah yang risikonya paling siap kamu tanggung.
    19. Orang bunuh diri tidak selalu karena ingin menghabisi nyawa, tapi kadang ingin melarikan diri dari rasa sakit saja.
    20. Selalu menang akan membuat kamu bingung apa makna kemenangan sebenarnya.
    21. Kita hidup di era dimana menyapa orang asing di internet adalah lumrah. Menyukai kontennya, mengomentari hidupnya, dan memantau pergerakannya…. Semua normal padahal nyatanya kita tidak kenal.
    22. Kebanyakan hal yang kamu benci adalah yang kamu belum coba.
    23. Hanya karena kamu membicarakan kejelekan orang, tidak berarti kejelekanmu memudar.
    24. Beberapa hati harus patah sebelum mereka tumbuh menjadi kuat.
    25. Minum susu adalah solusi instan untuk melancarkan pencernaan.
    26. Tidur nyenyak dan tidur cukup adalah harta yang berharga. Semakin kita tua, semakin sulit memilikinya.
    27. Bagaimanapun gaya kita di luar, bahagia/sedih itu hanya kita yang bisa rasa.
    28. Kamu tidak lebih baik dari orang lain—hanya beda dosa saja.
    29. Kalau kita udah sebel sama orang, apapun yang berkaitan dengan orang itu pasti keliatan salah.
    30. Jangan percaya dengan teori “dengerin musik klasik bikin kita pintar.” Kalau mau pinter ya belajar.
    31. Jika gajinya orang lain lebih besar dari kita, mungkin kebutuhan dia memang lebih banyak. Nggak usah iri.
    32. Di balik kesuksesan sebuah acara ada panitia yang rempong, kurang tidur, dan ngga sempet nikmatin acara di hari-H nya.
    33. Memaafkan musuh jauh lebih mudah daripada memaafkan orang terdekat yang menyakiti kita.
    34. Memaafkan orang lain adalah ajaran agama tersulit. Karena di dalamnya termasuk: tidak mengharapkan yang buruk terjadi pada orang itu & tidak membalas dendam ketika kamu punya kesempatan.
    35. Media sosial sejak awal diciptakan dan dirancang untuk membuat kita kecanduan. Slogan “mendekatkan yang jauh, dsb” hanya gimmick marketing.
    36. Namanya orang pasti berubah. Kalau tak pernah berubah, mungkin dia bukan orang.
    37. Kita sering kasihan saat menonton kesusahan hidup orang lain. Padahal orang yang menjalaninya merasa biasa-biasa saja. Karena kita tidak terlibat langsung, makanya kita membesar-besarkan.
    38. Semua kebenaran harus diuji. Jangan mudah percaya pada omongan/klaim pemuka agama.
    39. Semua orang itu baik, sampai kamu tahu kejelekannya.
    40. Semua lagu masa kecil itu enak, sampai kamu mengerti liriknya.
    41. Tidak semua hal di dunia ini harus diperbaiki oleh kamu. Dan tidak semua hal harus baik.
    42. Orang yang paling banyak tahu biasanya paling pendiam.
    43. Semakin canggih smartphone kita, semakin sulit kita berkonsentrasi.
    44. Mengonsumsi micin (MSG) memicu kita untuk merasa haus dan karenanya mendorong kita minum lebih banyak air.
    45. Suatu barang belum bisa dibilang bagus kalau belum ada yang memalsukan / membuat KW-nya. Hal ini berlaku juga untuk karakter & perilaku.
    46. Pada derajat tertentu, kita pasti rasis—ras kita terasa jauh lebih baik dibanding ras lainnya.
    47. Tidak perlu meromantisasi travelling. Tidak semua travelling itu menghibur dan menyenangkan—ada juga yang menyakitkan.
    48. Kecepatan jempol terkadang melebihi kecepatan berpikir.
    49. Semua orang, entah itu atheist/agnostic/beragama, berpotensi melakukan kejahatan. Bedanya adalah, orang beragama lebih “berkesempatan” untuk membungkus kejahatannya dengan embel-embel agama.
    50. Dunia sebenarnya nggak buruk-buruk banget, tapi memang yang diberitakan hampir selalu yang buruk, karena lebih laku. (Bad news is a good news)
    51. Semua dosa itu enak—yang ngga enak konsekuensinya.
    52. Hanya karena teori beredar bukan berarti dia benar. Pada prakteknya, teori tersebut bisa jadi salah karena ada perbedaan konteks, objek, timing, dsb.
    53. Jarak akan mengubah pandangan kita terhadap sesuatu—ini soal jarak secara fisik maupun emosional.
    54. Jika kita mencari-cari alasan untuk menyukai sesuatu, kita akan menemukannya. Jika kita mencari-cari alasan untuk membenci sesuatu, kita juga akan menemukannya.
    55. Yang menyajikan hal-hal trendy bisa eksis sementara, tapi yang memberikan solusi akan lebih bertahan lama.
    56. Amatiran ingin selalu menang, tapi seorang pakar tidak mempermasalahkan kalau sesekali kalah.
    57. Di dunia di mana populasi orang nyinyir makin banyak, bodo amat adalah sebuah keterampilan yang perlu dikuasai.
    58. Kamu bisa melakukan banyak hal baik tapi tetap akan ada yang benci kamu.

    ===

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.